 |
Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Anak Terlantar |
Syarah
Kitab Al-Ghayah wa At-Taqrib Matan Abu Syuja telah diberikan penjelasan
(syarah) oleh para ulama, salah satunya adalah kitab Fathul Qarib
al-Mujib atau al-Qaulul Mukhtar fi Syarah Ghayah al-Ikhtishar karya
Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazziy (918 H / 1512 M). Nama lengkap
beliau adalah Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazi
al-Qahiri as-Syafi'i. Beliau lebih dikenal dengan "Ibn
al-Gharabili". Beliau lahir di bulan Rajab 859 H/1455 M di Gaza,
Palestina dan di kota inilah beliau memulai kehidupan. Tepatnya pada
hari Rabu, 6 Muharram 918 H/1512 M beliau wafat.
Dalam
kitab fathul qorib al-mujib ini dibahas tentang fiqih Mazhab Imam
Syafi'i terdiri dari muqaddimah dan pembahasan ilmu fiqih yang secara
garis besar terdiri atas empat bagian, yaitu tentang cara pelaksanaan
ibadah, muamalat, masalah nikah, dan kajian hukum Islam yang berbicara
tentang kriminalitas atau jinayat
berikut Terjemah Bab Anak Terlantar Kitab Fathul Qorib teks arab berharakat disertai translate arti bahasa indonesia
Bab Anak Terlantar
(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ اللَّقِيْطِ
(Fasal) menjelasakan hukum-hukum laqith.
وَهُوَ صَبِيٌّ مَنْبُوْذٌ لَا كَافِلَ لَهُ مِنْ أَبٍّ أَوْ جَدٍّ أَوْ مَنْ يَقُوْمُ مَقَامَهُمَا
Laqith adalah anak kecil yang terlantar dan tidak ada yang mengurusnya baik ayah, kakek, atau orang-orang yang menggantikan keduanya.
وَيُلْحَقُ بِالصَّبِيِّ كَمَا قَالَ بَعْضُهُمُ الْمَجْنُوْنُ الْبَالِغُ
Disamakan dengan anak kecil, sebagaimana yang diungkapkan oleh sebagian ulama’, adalah orang gila yang sudah baligh.
Hukum Mengambil Laqith
(وَإَذَا وُجِدَ لَقِيْطٌ) بِمَعْنَى مَلْقُوْطٍ (بِقَارِعَةِ
الطَّرِيْقِ فَأَخْذُهُ) مِنْهَا (وَتَرْتِيْبُهُ وَكَفَالَتُهُ وَاجِبَةٌ
عَلَى الْكِفَايَةِ)
Ketika ada seorang laqith, dengan makna malquth (anak yang ditemukan), ditemukan di pinggir jalan, maka mengambilnya dari sana, merawat dan menanggungnya hukumnya adalah wajib kifayah.
فَإِذَا الْتَقَطَهُ بَعْضٌ مِمَنْ هُوَ أَهْلٌ لِحَضَانَةِ اللَّقِيْطِ سَقَطَ الْإِثْمُ عَنِ الْبَاقِيْ
Ketika ia sudah diambil oleh sebagian orang yang berhak untuk merawat laqith, maka tuntutan dosa menjadi gugur dari yang lainnya.
فَإِنْ لَمْ يَلْتَقِطْهُ أَحَدٌ أَثِمَ الْجَمِيْعُ
Sehingga, jika tidak ada seorangpun yang mau mengambilnya, maka semuanya berdosa. وَلَوْ عَلِمَ بِهِ وَاحِدٌ فَقَدْ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ
Seandainya yang mengetahuinya hanya satu orang, maka tuntutan hanya tertentu pada orang tersebut (fardlu ‘ain). وَيَجِبُ فِيْ الْأَصَحِّ الْإِشْهَادُ عَلَى الْتِقَاطِهِ
Menurut pendapat al ashah, wajib mengangkat saksi atas temuan anak terlantar.
Syarat Orang yang Mengambil Laqith
وَأَشَارَ الْمُصَنِّفُ لِشَرْطِ الْمُلْتَقِطِ بِقَوْلِهِ.
Mushannif memberi isyarah terhadap syarat-syarat penemu anak terlantar dengan perkataan beliau -di bawah ini-.
(وَلَا يُقَرُّ) اللَّقِيْطُ (إِلاَّ فِيْ يَدِّ أَمِيْنٍ) حُرٍّ مُسْلِمٍ رَشِيْدٍ
Seorang laqith tidak diserahkan kecuali pada orang yang dapat dipercaya, merdeka, islam dan rasyid.
(فَإِنْ وُجِدَ مَعَهُ) أَيِ اللَّقِيْطِ (مَالٌ أَنْفَقَ عَلَيْهِ
الْحَاكِمُ مِنْهُ) وَلَا يُنْفِقُ الْمُلْتَقِطُ عَلَيْهِ مِنْهُ إِلَّا
بِإِذْنِ الْحَاكِمِ
Jika ditemukan harta besertaan dengan anak tersebut, maka seorang hakim menafkahinya dari harta itu. Bagi si penemu tidak diperkenankan menafkahi anak tersebut dari harta itu kecuali dengan izin hakim.
(وَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ مَعَهُ) أَيِ اللَّقِيْطِ (مَالٌ فَنَفَقَتُهُ)
كَائِنَةٌ (فِيْ بَيْتِ الْمَالِ) إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ عَامٌ
كَالْوَقْفِ عَلَى اللُّقَطَاءِ
Jika tidak ditemukan harta besertaan dengan anak tersebut, maka nafkahnya diambilkan di baitulmal, jika memang ia tidak memiliki hak pada harta yang umum seperti harta wakaf untuk anak-anak terlantar.
Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Laqith (Anak Terlantar)"